You are currently browsing the daily archive for June 30th, 2009.
DI SUMEDANG tak banyak orang tahu perempuan ini. Tua renta dan bermata rabun. Pakaiannya lusuh, dan hanya itu saja yang melekat di tubuhnya. Sebuah tasbih tak lepas dari tangannya, juga sebuah periuk nasi dari tanah liat. Dia datang ke Sumedang bersama dua pengikutnya sebagai tahanan politik Belanda, yang ingin mengasingkannya dari medan perjuangannya di Aceh pada 11 Desember 1906.
Perempuan tua itu lalu dititipkan kepada Bupati Sumedang Pangeran Aria Suriaatmaja, yang digelari Pangeran Makkah. Melihat perempuan yang amat taat beragama itu, Bupati tak menempatkannya di penjara, tetapi di rumah H. Ilyas, seorang tokoh agama, di belakang Kaum (masjid besar Sumedang). Di rumah itulah perempuan itu tinggal dan dirawat.
Ahmad Nasir Siregar
Sekretaris Jenderal PB HMI
“Moderates all over the world, unite!”—Profesor Johan Galtung
Overview: Pemuda Indonesia dan Tantangan Dunia
Sejak merdeka, Indonesia sebagai negara-bangsa, senantiasa menghadapi konteks politik dan tantangan zaman yang berbeda-beda. Para pendiri bangsa seperti Sukarno, Hatta dan Sjahrir dan yang lainnya telah melaksanakan tugasnya secara baik, yakni berjuang untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara bangsa yang merdeka (creation), dengan segenap tantangan situasi nasional ataupun internasional di awal abad XX.
Sementara, sekarang ini kompleksitas permasalahan dan tantangan dunia telah berbeda. Sehingga dibutuhkan kesiapan semua anak banga untuk melakukan pengembangan atau pembaruan bangsa (renewal) agar senantiasa tercapai cita-cita mulia yang diwariskan oleh founding fathers Indonesia. Cita-cita itulah yang menopang seluruh elemen bangsa Indonesia untuk mampu bukan saja bertahan dalam menghadapi tantangan-tantangan dinamis zaman ini, tetapi juga menghantarkan Indonesia menjadi negara maju yang disegani masyarakat dunia. Artinya, perbedaan kondisi zaman yang ada tidak lantas melenyapkan cita-cita.
Read the rest of this entry »

Recent Comments