You are currently browsing the category archive for the 'kopi pastel' category.

sukarno-hattaMasalah utang kembali mencuat menjadi isu besar. Pemicunya adalah membengkaknya volume utang pemerintah dari Rp1.275 triliun pada akhir 2004, menjadi Rp1.704 triliun saat ini.

Artinya, 5 tahun terakhir, utang pemerintah meningkat rata-rata Rp97 triliun per tahun. Jika disimak berdasarkan jenisnya, peningkatan terbesar terjadi pada utang dalam negeri. Utang luar negeri, yang pada 2004 berjumlah Rp637 triliun, belakangan naik menjadi Rp732 triliun. Utang dalam negeri, yang pada 2004 berjumlah Rp662 triliun, meningkat menjadi Rp973 triliun.

Padahal, utang dalam negeri adalah utang mahal. Artinya, bunganya lebih tinggi daripada bunga utang luar negeri. Akibatnya, beban pembayaran bunga utang di APBN cenderung membengkak. Jika dalam APBN 2004 beban pembayaran bunga utang berjumlah Rp65 triliun, dalam APBN 2009 membengkak menjadi Rp110 triliun.

Yang menarik untuk disimak adalah sikap pemerintah. Walaupun secara nominal volume utang pemerintah meningkat gila-gilaan, pemerintah cenderung menganggap hal itu sebagai hal yang biasa-biasa saja. Bahkan pemerintah cenderung menepuk dada.

Read the rest of this entry »

n89794538946_7877

Oleh : Dr. Jeffrey A.Winters, Ph.D

23 Oktober 2005, Chicago USA

Ini adalah buku yang penting dan buku ini layak dibaca oleh siapa saja yang berkomitmen terhadap pembangunan kebebasan dan demokrasi di Indonesia. I Wayan Suardana (alias Gendo) ditangkap dan ditahan pada Januari 2005.

“Kejahatan apa yang dia lakukan?” Dia tidak mencuri dari tetangga atau took. Dia tidak melakukan korupsi terhadap uang rakyat. Dia juga tidak melakukan perusakan barang-barang atau menyerang seseorang secara fisik. Dia tidak memperkosa, menyiksa, ataupun membunuh seseorang. Dia tidak melakukan pengeboman terhadap masyarakat yang tidak berdosa, termasuk pekerja di rumah makan atau night club.

Gendo dipenjara atas “kejahatan” berekspresi politik. Khususnya pada saat melakukan unjuk rasa damai di Bali pada bulan Desember 2004, Gendo dan teman-temannya melakukan pembakaran terhadap photo Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Mengapa Gendo dan teman-temannya melakukan hal ini? Dan mengapa pula pemerintah menganggap Gendo sebagai penjahat?

Read the rest of this entry »

Seorang lelaki masuk ke restauran dengan seekor unta dewasa. Pelayan menanyakan pesanan mereka. Lelaki itu berkata “Hamburger, kentang goreng dan coca cola”, dan pelayan itu bertanya kepada unta, “Anda pesan apa?” “Sama dengan dia”, kata si unta. Tak lama kemudian pelayab tersebut kembali dengan pesanan mereka “Total semuanya $9.40″, dan lelaki tersebut mengambil uang pas dari kantongnya untuk pembayaran.

Keesokan harinya, lelaki itu dan untanya dating lagi dan lelaki itu berkata “Hamburger, kentang goreng, dan coca cola.” Si unta berkata “Sama dengan dia”. Sekali lagi lelaki itu mengambil uang pas dari dalam kantongnya untuk pembayaran.

Read the rest of this entry »

Sepasang kekasih yang akan menikah beberapa hari lagi berusaha untuk masing-masing mempercantik diri dan menambah percaya diri menghadapai pasangannya.

Sang pria yang punya masalah dengan bau kakinya meminta nasehat Ayahnya untuk masalah tersebut. Sang ayah pun menjawab dengan tipsnya untuk selalu menggunakan kaus kaki bahkan di tempat tidur.

Sang wanita yang rupanya menderita bau mulut meminta nasehat pada orang tuanya.

Orang tua si wanita pun berpesan : “Kalau kamu bangun tidur, jangan langsung ngomong. Usahakan tidak berbicara sedikitpun, langsung saja bebenah ke belakang dan sikat gigi. “

Minggu pertama menikah, mereka berdua pun menjalankan tipsnya masing- masing dan kelihatannya lancar-lancar saja. Namun, suatu hari si pria sadar bahwa
kaus kakinya terlepas satu dan ia mencarinya kekolong tempat tidur takut istrinya akan mencium bau kakinya tersebut.

Si istri pun terbangun dan tak sadar bertanya : ” Kamu lagi ngapain sih, Mas ? “

Tiba-tiba si suami berkata dengan kagetnya : “Ya ampun, kaus kakiKu rupanya tertelan Kamu ya ?”

aceh3sekitar pukul 21.00 WIB saya beserta rombongan mendarat di Bandara Iskandar Muda NAD. Ini pertama kalinya saya datang ke Aceh pada malam hari. Biasanya saya selalu datang pada siang hari. Saya masih ingat waktu Aceh sedang kacau-kacaunya apabila kita berkunjung ke sana, maka dalam berkonvoi kita akan dikawal oleh panser dari segala sisi. Namun sekarang tidak lagi. Di sepanjang jalan saya melihat orang dengan santainya mengobrol di warung kopi, toko-toko masih buka.

Ini berbeda sewaktui Aceh belum damai, ketika saya menteri ada salah seorang pejabat yang mengeluh kepada saya, dia bilang “pak Jusuf, selama ini belum ada Menteri yang berani nginap di Aceh” saya bilang ke dia “kalau begitu saya Menteri yang pertama menginap,” saya tanya dia, ” di mana daerah yang paling rawan ?” dia jawab “di Lhokseumawe pak” maka saya pergi menginap di sana. Malamnya tidak ada apa-apa, bahkan pada subuh hari saya pergi ke masjid untuk sholat. Karena itu saya ditegur “kenapa bapak berani pergi jalan subuh?” saya bilang ke orang yang menegur saya, “saya kan pergi sembahyang, tidak mungkin itu GAM mau tembak orang yang pergi sembahyang”. Jadi memang untuk mendamaikan itu kita harus tahu karakter masing-masing, dan saya paham betul karakter orang Aceh, hampir sama dengan karakter orang Bugis, maka tidak heran kalau Sultan Ismail yang orang Bugis pernah menjadi Raja di Aceh.

Read the rest of this entry »

Alkisah ada seorang ibu yang memiliki tiga menantu dari ketiga putrinya yang cantik-cantik. Sang ibu mertua ingin tahu apakah ketiga menantunya itu sayang kepada mertuanya atau cuma putrinya saja.

Dia lalu memutuskan menguji mereka secara bergantian. Suatu hari dia mengajak menantu pertama naik perahu motor ke tengah laut. Di sana dia sengaja menjatuhkan dirinya dari perahu dan terlempar ke dalam air laut.

Sang menantu tanpa pikir panjang langsung terjun menyelamatkan ibu mertuanya. Besoknya ketika keluar rumah, sang menantu pertama melihat mobil Nissan Livina terparkir di depan rumah, dan secarik kertas bertuliskan “Dari ibu mertuamu”.

Giliran menantu kedua yang diajak ke tengah laut. Sekali lagi sang mertua pura-pura terjatuh dan terlempar keluar perahu. Menantu kedua ini melupakan pakaian dan dompetnya, langsung terjun demi menyelamatkan mertua tercinta.

Besoknya di depan rumah menantu kedua terparkir Toyota Alphard, disertai kertas bertuliskan “Dari ibu mertuamu”

Ketika giliran menantu ketiga diajak ke tengah laut, sang mertua kembali melakukan gerakan terjun bebas. Tapi apes, kali ini sang menantu malah berkecak pinggang memandangi ibu mertuanya yang megap-megap di dalam air.

Sempat-sempatnya dia berkata, “Rasain lu!” sambil berputar membawa perahunya ke darat. Besok harinya ketika menantu ini keluar rumah, di depan rumahnya terparkir Mercedes Benz S-Class terbaru beserta kertas bertuliskan, “Dari ayah mertuamu.”

Sudah lama Budi naksir perempuan yang tinggal di kampung sebelah. Ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Perempuan itu menerima cinta Budi dengan sepenuh hati, meski ‘proklamasi cinta’ Budi dilakukan di gang sempit pinggir selokan.

Sayang, kisah-kasih di selokan itu tidak berjalan mulus. Orang tua si gadis keberatan karena Budi belum bekerja. Namun keduanya pantang menyerah. Bahkan, setelah beberapa bulan menjalin hubungan kasih, Budi memberanikan diri melamar. Ia menemui ayah si gadis.

“Pak, kami sudah saling cinta, maka kami akan menikah. Kapan saya boleh menikahi anak Bapak?” kata Budi.

Ayah si gadis jelas menolak. Namun untuk berkata terus terang, ia tidak sampai hati.

“Begini Nak Budi. Bukan saya keberatan, tapi tunggulah saat yang tepat. Saat ini umur anak saya 20 tahun, umur Nak Budi 24 tahun. Jadi, tunggulah sampai umur kalian sama,” kata si Bapak.

Sarjo melamar pekerjaan sebagai penjaga lintasan kereta api. Dia diantar menghadap Pak Banu, kepala bagian, untuk tes wawancara.

“Seandainya ada dua kereta api berpapasan pada jalur yang sama, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Pak Banu, ingin mengetahui seberapa cekatan Sarjo.

“Saya akan pindahkan salah satu kereta ke jalur yang lain,” jawab Sarjo dengan yakin.

“Kalau handle untuk mengalihkan rel-nya rusak, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Pak Banu lagi.

“Saya akan turun ke rel dan membelokkan relnya secara manual.”

“Kalau macet atau alatnya rusak, bagaimana?”

“Saya akan balik ke pos dan menelepon stasiun terdekat.”

“Kalau telponnya lagi dipakai?”

“Saya akan lari ke telepon umum terdekat?”

“Kalau rusak?”

“Saya akan pulang menjemput kakek saya.”

“Lho?” tanya Pak Banu heran dengan jawaban Sarjo.

“Karena seumur hidupnya yang sudah 73 tahun, kakek saya belum pernah melihat kereta api tabrakan….”

Anakmu bukanlah milikmu,

mereka adalah putra putri sang Hidup,

yang rindu akan dirinya sendiri.

Mereka lahir lewat engkau, tetapi bukan dari engkau,

mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Berikanlah mereka kasih sayangmu,

namun jangan sodorkan pemikiranmu,

sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.

Patut kau berikan rumah bagi raganya,

namun tidak bagi jiwanya,

sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,

yang tiada dapat kau kunjungi,

sekalipun dalam mimpimu.

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,

namun jangan membuat mereka menyerupaimu,

sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,

ataupun tenggelam ke masa lampau.

Engkaulah busur asal anakmu,

anak panah hidup,

melesat pergi.

Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,

Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,

hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,

sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,

sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.

Ceritanya setelah Pak Harto meninggal anak-anaknya ngerasa kehilangan bgt, buat melepas stress Tutut liburan ke Amerika. Di Amerika dia ketemu temen lamanya si Inem dan akhirnya si Tutut curhat sama si Inem

Tutut : “Nem gua kesepian banget nih semenjak bokap meninggal.”

Inem : “Sabar ya tut, oh iya gua denger di amerika dah di temuin telpon canggih buat nelpon ke Akhirat, tapi pulsanya mahal banget tut.”

Tutut : “Ah yang bener lu nem ayo deh anterin gua beli tuh telpon, tidak apa-apa deh mahal, gua kan kaya, yang penting gua bisa ngobatin kangen sama bokap.”

Akhirnya si tutut beli tuh telpon, trus dibawa ke rumahnya. Sampe dirumahnya di tes ternyata bener dia bisa ngomong sama bokapnya, trus akhirnya semua keluarganya pada ikut ngomong.

Waktu selesai semuanya ngomong akhirnya si tutut jadi kepikiran sama tagihan telponnya, soalnya total pembicaraan semuanya lebih dari 6 jam.

Akhirnya dia nelpon Operator buat nanya tagihannya, Ternyata kata operator tagihan cuman Rp. 53,000. tutut kaget kok murah banget akhirnya dia nelpon operator lagi buat mastiin kalo tarifnya emang murah. Kalo bener murah dia pengen nelpon lagi.

Tutut : “Ooi mister bener tuh tagihannya cuman 53 ribu, murah banget, coba cek lagi deh.”

Operator :” Oke deh saya cek, tutup aja bu nanti saya hubungin”

Setelah 5 menit akhirnya si Operator nelpon tutut

Operator : “Halo bu, ternyata bener ngga ada yang salah, tarifnya emang segitu, waktu saya cek ternyata Cendana sama neraka pulsanya lokal.