You are currently browsing the category archive for the 'sendiri' category.

Suatu hari karena kebutuhan uang untuk dapur rumahnya, Lukman harus menjual keledai kesayangannya.

Maka berangkatlah dia bersama anaknya sambil menuntun keledai itu kepasar.

Lalu mereka berpapasan dengan seorang teman yang melihat Lukman dan anaknya berjalan sambil menuntun keledai itu.

“Hai, Lukman hendak kemanakah kalian?”

“Kami hendak menjual keledai ini kepasar”

“Alangkah bodohnya kau ini Lukman, ada keledai kenapa kok tidak kau tugangi saja?”

Maka kemudian Lukman-pun menunggangi keledai itu, sementara anaknya berjalan menuntun-nya

Lalu mereka berpapasan dengan seorang teman lain yang melihat Lukman naik keledai sementara anaknya menuntun.

“Hai, Lukman hendak kemanakah kalian?”

“Kami hendak menjual keledai ini kepasar”

“Alangkah kejamnya kau Lukman.. Kau enak2 naik keledai itu sementara anak kau disuruh berjalan”

Maka kemudian Lukman-pun turun dari keledai itu dan menyuruh anaknya yang menunggangi-nya. Lalu mereka pun kembali berjalan.

Lalu mereka berpapasan dengan seorang teman lain yang melihat anak Lukman naik keledai sementara Lukman menuntun.

“Hai, Lukman hendak kemanakah kalian?”

“Kami hendak menjual keledai ini kepasar”

“Alangkah durhaka-nya anak kau itu Lukman.. Masa dia enak2 naik keledai itu sementara orang tua-nya disuruhnya berjalan”

Maka kemudian Lukman pun naik keledai itu berdua dengan anak-nya dan kembali berjalan kepasar.

Lalu mereka berpapasan dengan seorang teman lain yang melihat Lukman dan anaknya berdua naik keledai itu.

“Hai, Lukman hendak kemanakah kalian?”

“Kami hendak menjual keledai ini kepasar”

“Tidak ada manusia yang se-kejam kalian yang pernah kulihat. Masa keledai sekurus itu kalian ditugangi berdua. Bisa mati keledai itu sebelum sampai ke pasar”

Lalu berkatalah Lukman kepada anaknya..

Wahai anakku
Jika kau tidak ingin dikritik orang lain
maka
Jangan berkata apa-pun
Jangan berbuat apa-pun
dan
jangan Jadi siapa-pun..