You are currently browsing the tag archive for the 'sejarah' tag.
DI SUMEDANG tak banyak orang tahu perempuan ini. Tua renta dan bermata rabun. Pakaiannya lusuh, dan hanya itu saja yang melekat di tubuhnya. Sebuah tasbih tak lepas dari tangannya, juga sebuah periuk nasi dari tanah liat. Dia datang ke Sumedang bersama dua pengikutnya sebagai tahanan politik Belanda, yang ingin mengasingkannya dari medan perjuangannya di Aceh pada 11 Desember 1906.
Perempuan tua itu lalu dititipkan kepada Bupati Sumedang Pangeran Aria Suriaatmaja, yang digelari Pangeran Makkah. Melihat perempuan yang amat taat beragama itu, Bupati tak menempatkannya di penjara, tetapi di rumah H. Ilyas, seorang tokoh agama, di belakang Kaum (masjid besar Sumedang). Di rumah itulah perempuan itu tinggal dan dirawat.
sekitar pukul 21.00 WIB saya beserta rombongan mendarat di Bandara Iskandar Muda NAD. Ini pertama kalinya saya datang ke Aceh pada malam hari. Biasanya saya selalu datang pada siang hari. Saya masih ingat waktu Aceh sedang kacau-kacaunya apabila kita berkunjung ke sana, maka dalam berkonvoi kita akan dikawal oleh panser dari segala sisi. Namun sekarang tidak lagi. Di sepanjang jalan saya melihat orang dengan santainya mengobrol di warung kopi, toko-toko masih buka.
Ini berbeda sewaktui Aceh belum damai, ketika saya menteri ada salah seorang pejabat yang mengeluh kepada saya, dia bilang “pak Jusuf, selama ini belum ada Menteri yang berani nginap di Aceh” saya bilang ke dia “kalau begitu saya Menteri yang pertama menginap,” saya tanya dia, ” di mana daerah yang paling rawan ?” dia jawab “di Lhokseumawe pak” maka saya pergi menginap di sana. Malamnya tidak ada apa-apa, bahkan pada subuh hari saya pergi ke masjid untuk sholat. Karena itu saya ditegur “kenapa bapak berani pergi jalan subuh?” saya bilang ke orang yang menegur saya, “saya kan pergi sembahyang, tidak mungkin itu GAM mau tembak orang yang pergi sembahyang”. Jadi memang untuk mendamaikan itu kita harus tahu karakter masing-masing, dan saya paham betul karakter orang Aceh, hampir sama dengan karakter orang Bugis, maka tidak heran kalau Sultan Ismail yang orang Bugis pernah menjadi Raja di Aceh.
KH. Jalaluddin Rakhmat
Kita akan meneruskan kisah kita tentang Salman Al-Farisi. Beberapa waktu yang lalu kita membicarakan bagaimana Salman menebus dirinya dan perbudakan dengan bantuan Rasulullah Saw. Kita juga mencerjtakan jasa-jasa Salman dalam perjuangannya bersama Nabi.
Salman dan Kecintaannya pada Imam Ali
Saya ingin menyebutkan beberapa hadis dan Salman Al-Farisi dalam Pembelaannya terhadap ImamAli. Kata Salman, “Kami pernah berbai’at kepada Rasulullah Saw untuk tetap setia kepada kaum Muslimin dan mengambil Ali sebagai Imam dan berwali kepadanya.”
Di antara khotbah Salman di masjid, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Wahai orang Muhajirin dan Anshar, inginkah kalian aku tunjukkan yang apabila kalian berpegang teguh padanya, kalian tidak akan sesat selama-lamanya?’ Tentu ya Rasulullah Nabi bersabda, “Inilah ‘Ali saudaraku, pembantuku, pewarisku dan khalifahku, imam kalian sesudahku Maka cintailah dia karena kecintaanku kepadanya, muliakanlah dia karena aku memuliakannya Karena sesungguhnya Jibril menyampaikan kepadaku untuk menyampaikan kepada kamu apa yang aku sampaikan.

Recent Comments